Kumpulan Sastra Jawa, Geguritan, Cerkak, Cerita Wayang

Jejer lan Wasesa | Parama Sastra

Jejer lan Wasesa | Parama Sastra
Jejer lan Wasesa | Parama Sastra

Jejer lan Wasesa

Jejer adalah bagian yang diterangkan, dibicarakan, yang diceritakan bagaimana tingkah lakunya/tindakannya dalam kalimat. Kata jejer artinya ngadeg (berdiri). Oleh karena itu jejer selalu terdiri dari kata-kata yang dapat berdiri sendiri, yaitu tembung aran (kata benda), atau kata-kata yang dibendakan. Bacalah kalimat di bawah ini, dan kata-kata yang dicetak miring adalah jejernya:

Dhek wingi aku dolan menyang JuTulkiyeman.
Kasugihane ora ana kang ngungkuli.
Panulise kurang cetha.
Enggone arep tindak menyang Klaten wurung.

Kadang-kadang jejer itu masih dijelaskan lagi, agar lebih jelas. Keterangan yang menjelaskan jejer disebut keterangan (ing) jejer. Biasanya keterangan itu mudah saja cara menandainya, yaitu letaknya pasti di belakang jejer. Contoh: Bocah, kang klambi biru iku, keponakanku.

Wasesa adalah semua kata yang menerangkan jejer, mengenai tindakannya atau keadaannya/sifatnya. Jika yang diingat dari kalimat apa wasesa berasal, wasesa dapat dibedakan menjadi tiga: wasesa dalam kalimat aktif (ukara tanduk); wasesa ing ukara tanggap (kalimat pasif); Wasesa ing ukara-nominal.

Wasesa dalam ukara tanduk, adalah terdiri dan kata-kata yang karimbag tanduk (dibentuk aktif). Telah dijelaskan di muka, bahwa tembung kriya (kata kerja) dibedakan menjadi dua macam ialah: Tembung kriya tanpa lesan (kata kerja tak berobyek/intransitif); Tembung kriya mawa lesan (kata kerja
berobyek/transitif).

Wasesa dari tembung kriya tanpa lesan, wasesa yang berasal dan tembung kriya tanpa lesan (kata kerja tak berobyek) dapat dibentuk dari bermacam-macam rimbag. Coba perhatikan contoh di bawah ini:
Warna lagi meguru pandhita ing gunung.
Esuk—esuk Karna wis aklambi lurik, asarung kawung.
Wasesa dari tembung kriya mawa lesan, contoh:
Sudagar iku nawakake dagangan.

Kata-kata: nggodhog, naboki, nawakake, itulah yang menjadi wasesanya. Adapun wedang, kancane, dagangan, yang menderita kriyanya wasesa dan disebut lesan kang nandang (obyek penderita). Nama lesan yaitu yang di-les, yang dituju. Oleh karena itu lesan harus terdiri dan benda yang dapat berdiri sendiri ialah tembung aran (kata benda) atau kata-kata yang dibendakan. Wasesa keluar dan tembung kriya (kata kerja) berobyek, dapat berbentuk: tanduk wantah, tanduk-i, atau tanduk-ke. Demikian juga perintah rimbag-rimbag tersebut.
Contoh:
Tulkiyem nggawakake dhuwit.
Perintahnya: nggawakna dhuwit!
Kata kerja tak berobyek (intransitif), sebagian ada yang menjadi wasesa mawa lesan (berobyek), jika pangrimbagnya (pembentukannya) dengan cara memberi panambang-i atau —ake. Contoh:
lunga :
nglungani pegawean.
Nglungakake barang.
Teka :
Nekani pasamuwan
Nekakake bala cadhangan.

Kata wisuh, raup, dhedhe, klamben, bebedan, gegeni,
dan sebagainya sesungguhnya memang mengandung makna membutuhkan lesan, ialah awake dhewe (diri sendiri). Tetapi kata itu tidak dimasukkan tembung kriya mawa lesan (kata kerja berobyek). Adapun jika terpaksa wasesa (kriya) tanpa lesan (predikat kata kerja tak berobyek) akan dilekati lesan, dapat menggunakan kata depan marang, menyang, dhateng, tumrap. Contoh:

Sapa ta sing isih kelingan marang ngendikane bapak swargi?

Sinten tiyangipun ingkang boten badhe tresna dhateng putra piyambak.

Kula sampun jengkel dhateng sadaya pratingkahipun ingkang murang tata punika.

Sebaliknya kata wasesa yang telah mendapat panambang -i, -ake, tidak baik jika diberi kata sambung: dhateng, marang, menyang. Contoh:

Bambang nukokake dolanan adhine.
Bambang nukokake adhine dolanan.

Ketiga kalimat di atas lesannya atau yang menderita kriyanya wasesa adalah dolanan. Bambang membeli mainan (dolanan) bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk adiknya. Maka kata adhine menjadi keterangan wasesa (keterangann predikat) yang menunjukkan siapa atau barang apa yang dimaksudkan.
Selain itu ada juga yang menyebutnya tidak dengan istilah keterangan tetapi lesan kang pinurih (obyek yang dituju). Di sini akan tampak jelas jika itu adalah lesan (di-les, kang diener, atau kang pinurih), apabila kalimatnya dibuat tanggap.

Jarane dipakani kulit gedhang Bambang.
Anak-anake diwacakake koran bapakne.

Adhine, jarane, anak-anake menjadi jejer dan juga menjadi lesan. Lihatlah bab wasesa dalam ukara tanggap (kalimat pasif). Masalah sebutan lesan atau katrangan, diserahkan saja pada para pemerhati bahasa Jawa, yang besok akan memberi kepuasan dan sekaligus menunggu sampai di mana perkembangan bahasa Jawa. Lesan yang dimaksud itu kedudukannya dalam kalimat dapat bertukar tempat dengan lesan yang dikenai pekerjaan (penderita) wasesa, tergantung bagian mana yang dipentingkan. Apabila lesan yang dimaksud berada di belakang lesan penderita, tidak perlu dilekati kata depan:

kanggo, tumrap, katur, dan sebagainya. Contoh:

Bapak maosaken koran kangge kula sadaya.

Ibu ndongengaken Brambang-Bawang tumrap putra-putra sadaya.

Tentu saja, cara membacanya harus benar, disesuaikan dengan di mana memenggalnya. Meskipun demikian kalimat tersebut dalam bahasa Jawa yang tulen pasti diubah menjadi:

Adhine ditukokake dolanan Bambang.
Kula sadaya dipunwaosaken koran Bapak.

Kalimat yang demikian itu disebut ukara tanggap (kalimat pasif). Adapun keterangan lebih lanjut seperti di bawah ini.
Wasesa ing ukara tanggap, ukara tanduk:
Tulkiyem mlayokake dagangan.
Embokne nurokake anake.

Tulkiyem dan embokne menjadi jejering ukara (subyek kalimat) ialah yang melakukan pekerjaan. Mlayokake dan nurokake menjadi wasesaning ukara (predikat kalimat). Dagangan dan anake sebagai lesan kang nandhang (obyek penderita). Apabila kalimat tersebut dibuat ukara tanggap (kalimat pasif) maka
menjadi:
Anake diturokake embokne.

Dalam ukara tanggap (kalimat pasif) tersebut dagangan dan anake menjadi jejering ukara (subyek kalimat) juga masih menjadi lesan, seperti dalam ukara tanduk (kalimat aktif) diatas.
Diplayokake dan diturokake sebagai wasesaning ukara tanggap (predikat kalimat pasif).

Tulkiyem dan embokne masih tetap sebagai katranganing kang nindakake pagawean (keterangan pelaku tindakan), tetapi kemudian bukan lagi sebagai jejering ukara, hanya sebagai katraning wasesa (keterangan predikat) saja.

Dalam bahasa Indonesia, Tulkiyem dan embokne disebut pelengkap (obyek) pelaku, tetapi jika dalam bahasa Jawa tidak cocok apabila lalu disebut lesan. Sebab tidak menunjukkan ener atau yang dituju. Lebih baik disebut dengan sebutan yang agak panjang, tetapi lengkap pengertiannya, ialah katrangan kang tumindak (keterangan pelaku). Apabila orang yang melakukan (pelaku) sudah jelas, sudah tidak perlu disebutkan lagi cukup dikatakan, misalnya:

Klambine kinumbah mengandung pengertian si pelaku adalah orang ketiga, hanya dipakai dalam bahasa tulis.

Apabila di belakang wasesa akan dilekati keterangan kang tumindak (keterangan pelaku) tidak usah diberi kata depan (tembung panggandheng) dening. Contoh:
Kula sadaya dipunwaosaken koran dening Bapak.
Yang benar tidak usah memakai kata dening.
Wasesa ing ukara nominal (predikat kalimat nominal).

Ukara nominal (kalimat nominal) yang menjadi wasesanya bukan tembung kriya tanduk (kata kerja aktif) tetapi tembung aran (kata benda), kaanan (kata sifat), wilangan (bilangan) atau kata yang lain, kecuali tembung kriya (kata kerja). Wasesa (predikat) yang demikian itu sama sekali tidak ditemukan dalam bahasa asing (Jerman). Menurut penelitian, dalam bahasa Jawa kalimat nominal malah sering dipakai jika dibandingkan dengan ukara tanduk (kalimat aktif). Perhatikan:

Dalam ukara tanduk (kalimat aktif) ada pertanyaan:

Sapa mangan klonthengan kae?
Sapa nyapu rag-reg latar ngarepan kae?

Kata-kata kang mangan klonthengan kae dan sing nyapu rag-reg latar ngarepan kae, meskipun panjang tetapi dibuat seperti halnya tembung aran (kata benda) hanya satu kata saja. Hal yang demikian itu dapat dikatakan dengan cara lain sebagai berikut:

Bab enggone mangan klonthengan. (Hal cara makannya)
Bab enggone nyapu rag-reg latar ngarepan. (hal cara menyapunya)

Ingatlah kata kang dapat dipakai untuk membentuk tembung dudu aran dadi tembung aran (bukan kata benda menjadi kata benda). Sekarang bagaimana cara menandai jejer dan wasesa ukara nominal (kalimat nominal)?

Umumnya jejer kalimat nominal itu di depan, adapun wasesa di belakang (Padmasoekatja, 1990: 97). Tetapi ciri-ciri yang pokok ialah kata atau hal yang mana telah diketahui lebih dahulu itulah yang menjadi jejernya. Contoh: kalimat sing mangan kionthengan kae/dhik Wiwik, akan dibuat dua pertanyaan yang nantinya menunjukkan bahwa sing mangan klonthengan kae bisa menjadi jejer atau wasesa.

Dhik Wiwik bisa menjadi wasesa atau jejer.

Demikian: sing mangan klonthengan kae sapa?

Dalam kalimat tersebut sing mangan klonthengan kae sebagai jejer. Dhik Wiwik sebagai wasesa. Adapun jika pertanyaannya demikian: dhik Wiwik kang endi?
Jawabnya: dhik Wiwik sebagai jejer, sing mangan klonthengan sebagai wasesa.

Mengenai hal yang terakhir ini tentu saja bisa disesuaikan dengan katrangan jejer (keterangan subyek), jadi bukan wujud (bentuk) kalimat tetapi sing mangan klonthengan kae hanya sebagai aposisi. Di bawah ini ada contoh-contoh mengenai wasesa dan tembung aran (kata benda), kaanan (kata sifat), wilangan (kata bilangan), dan sebagainya.

a. wasesa dan tembung aran (kata benda)

isining goni iku beras.
Kang kurang sembada pradhahe.
Kang abang-abang kae puthu.

b. wasesa dan tembung kaanan (kata sifat)

Budianti lumpangen (tembung guna)
Umi Latifah gudhigen. (tembung guna)
bocah-bocah padha tangisan. (tembung wisesana)
bocah iku mbodhoni. (tembung tanduk —i kriya)

C.Wasesa saka tebbung sesulih (wasesa dan kata ganti)

kang ko-goleki .. iku apa.
Bocah kang pinter dhewe ... endi?
Iki .. layang kang ketlisut.

d. wasesa saka tembung wilangan (wasesa dan kata bilangan)

Duwitku sethithik banget.
Previous
Next Post »