Kumpulan Sastra Jawa, Geguritan, Cerkak, Cerita Wayang

Ukara Tanduk lan Ukara Tanggap | Parama Sastra

Ukara Tanduk lan Ukara Tanggap | Parama Sastra
Ukara Tanduk lan Ukara Tanggap | Parama Sastra

Ukara Tanduk lan Ukara Tanggap

Ukara tanduk (kalimat aktif) adalah kalimat menyatakan gagasan, pikiran, adapun yang menjadi pokok pembicaraan wasesanya atau jejernya. Wasesanya karena perlu menerangkan tindakan jejer, atau tingkah lakunya. Jejernya karena perlu menerangkan siapa yang melakukan tindakan yang tersebut pada kriyane tembung wasesa (kata kerja predikat). Kalimat yang dipentingkan wasesanya :

Sapa nyapu rag-reg latar ngarepan kae?
Jawabnya: Dhik Wiwik mangan klonthengan.

Kalimat itu yang dipentingkan jejernya. Ukara tanggap (kalimat pasif) juga menjadi pernyataan gagasan, pikiran, adapun yang dipentingkan adalah lesannya yaitu yang menderita kriyanya wasesa (penderita). Oleh karena menjadi pokok pembicaraan maka kedudukan lesan dalam kalimat dibuat jejer. Ukara tanggap (kalimat pasif) menjadi jawaban pertanyaan:

Sapa atau apa di- ...

Contoh: sapa didukani simbah? Apa disuwun-suwun kanthi adreng? Jawabnya: Dhik Angga didukani simbah. Tentu saja jika lesannya sudah diketahui sebelumnya, hanya wasesanya saja yang belum, kalimat pasif akan menjadi jawaban pertanyaan:

....dikapakake?
Contoh: Gareng dikapakake Siman?
Jawabnya: Gareng ditendhang Siman. Kalimat pasif (ukara tanggap) tentu saja wasesanya juga berbentuk rimbag tanggap.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini :

Sudagar wau/nawekaken daganganipun.
Adhimu/ditaboki Simin.
Bocah iku/aja ko-srengeni.
Kalimat di atas kata-kata yang di depan menjadi jejer, adapun yang di belakang tanda pemenggal kalimat menjadi wasesanya. Pada umumnya letak jejer ada di depan, wasesa di belakang. Meskipun letaknya dibalik, juga tidak menjadi masalah tergantung pemakaiannya.
Contoh: Diwirangake adhiku.
Previous
Next Post »