PULUNG GANTUNG; SEBUAH MITOS DATANGNYA KEMATIAN DI WILAYAH GUNUNG KIDUL* Analisis Semiotik Cerpen ‘Pohon Mangga Warisan Kakek’

Pengantar

Karya sastra merupakan cerminan dari fenomena sosial yang muncul dalam masyarakat. Ia lahir dari imajinatif pengarang, dimana bahasa sebagai mediumnya dan dalam sastra tersebut dominan dengan aspek estetiknya (Rene Wellek & Austin Warren, 1993: 11-23). Sebagai karya yang dominan dengan estetiknya, maka bahasa yang gunakan tentu bukan bahasa dalam arti yang sebenarnya. Bahasa sastra adalah bahasa tingkat kedua (secondary modelling system), bukan bahasa tingkat pertama (primary modelling system). Bahasa merupakan sistem tanda yang mengekspresikan ide-ide atau gagasan manusia (Saussure via Asa Berger, 2005: 3). Oleh karena itu, untuk memaknai sebuah karya sastra maka harus memahami tanda-tanda yang ada dalam karya sastra tersebut. Berbicara mengenai sistem tanda, maka ilmu semiotika-lah yang membahas tentang tanda-tanda tersebut.

Studi sistematis mengenai tanda-tanda dikenal sebagai semiologi. Kata semi dalam semiologi berasal dari bahasa latin semion yang berarti tanda. Menurut Saussure ( via Asa Berger, 2005: 11-12) dalam sistem tanda terdapat penanda dan petanda (signifie dan signifian) yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya menunjukkan arti (signifikatif). Tokoh semiotik terkenal dari Amerika, Pierce (via Asa Berger, 2005: 14) menyatakan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek yang menyerupainya, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari adanya sebab dan akibat, dan Pierce menggunakan istilah ikon untuk menyebut kesamaannya, indeks untuk hubungan sebab dan akibat, serta simbol untuk asosiasi konvensional.

Sebuah karya sastra sarat dengan tanda. Untuk memaknainya maka harus membongkar sistem tanda  yang terdapat dalam karya tersebut. Begitu juga dengan cerpen ‘Pohon Mangga Warisan Kakek’ karya Iman Budhi Santosa. Penulis mencoba menganalisis cerpen tersebut dari segi semiotik.

Sinopsis

Cerpen ini dibuka dengan menceritakan suasana desa yang tintrim (lengang dan was-was) sejak kematian Wak Karsun, warga setempat yang meninggal dengan gantung diri di sebuah pohon mangga. Sejak kejadian itu banyak warga yang menyarankan agar pohon tersebut ditebang saja. Mereka takut tempat tersebut akan menjadi sarang hantu, kebun menjadi angker, dan mengakibatkan kesurupan, sebab tanah warisan kakek tersebut berada di tepi jalan yang dekat dengan TK dan Balai Desa. Menurut mereka, kalau pohon itu dibiarkan sama saja dengan memberikan rumah pulung gantung yang akan meminta korban lagi. Pulung gantung adalah makhluk halus yang menyerupai bola api dan konon di Gunung Kidul menjadi penyebab orang gantung diri.

Sebagai pohon warisan kakek, tokoh Bapak dan Totok (anak) tidak merelakan jika pohon mangga tersebut ditebang. Karena menurut mereka pohon itu tidak bersalah. Di samping itu buahnya lebat dan hasilnya lumayan jika dijual, dan yang terpenting adalah pohon tersebut ditanam oleh almarhum kakek sebagai penanda kelahiran tokoh Bapak. Sementara tokoh Ibu menyarankan agar pohon itu ditebang saja, apalagi tokoh Nenek sampai malu mendengar rerasanan (pembicaraan negatif) tetangga.

Sebulan setelah kejadian itu, muncul ketegangan yang melanda keluarga tersebut. Totok yang baru pulang sore dari lapangan bola merasakan keanehan dalam keluarganya. Ayah dan Ibu tidak banyak bicara, bahkan Nenek tidak kelihatan. Totok diberi tahu oleh Ibu, bahwa ayah dan nenek habis bertengkar gara-gara nenek ketahuan membacoki pohon mangga itu dengan sabit. Begitu ayah tahu, sabit direbut lalu dibuang. Diperlakukan begitu, nenek marah dan ayah tak mau kalah. Kata-kata nenek dilawan habis-habisan hingga nenek pulang sambil menangis, masuk kamar dan sampai tak mau keluar.

Berhari-hari nenek ngambeg, jarang keluar, jarang ngomong, makan kalau tidak dipaksa juga tidak mau. Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari memancing, Totok dihadang oleh kakak sulungnya (Mas Pri). Ia diberitahu bahwa nenek meninggal akibat bunuh diri dengan menggantung di pohon mangga kesayangan bapak tersebut. Desa itu geger lagi, apalagi yang menggantung adalah keluarga pemilik kebun itu. Sampai dekat Balai Desa, tampak asap tebal mengepul dari arah kebun belakang rumah. Ternyata pohon mangga itu telah ditebang oleh Ayah dibantu para tetangga. Kayunya dibelah-belah dan dibakar.

Analisis

Cerpen ‘Pohon Mangga Warisan Kakek’ karya Iman Budhi Santosa lebih berbicara pada aspek psikologis tokoh-tokohnya. Pertentangan prinsip antar tokoh terlihat jelas dengan adanya kejadian pertengkaran tokoh Ayah dengan tokoh Nenek hingga mengakibatkan tokoh Nenek gantung diri pada pohon mangga kesayangan tokoh Ayah tersebut. Berikut beberapa analisis semiotik cerpen tersebut:

Kasus bunuh diri tokoh Wak Karsun pada pohon mangga milik tokoh Ayah mengakibatkan warga setempat dan tokoh nenek menyarankan pada Ayah agar pohon tersebut ditebang saja. Sesuai dengan  teori Peirce, maka dalam kasus ini terdapat indeks, yakni hubungan sebab dan akibat. Kematian Wak Karsun secara tragis tersebut mungkin disebabkan oleh persoalan kesulitan ekonomi, persoalan rumah tangga, sakit yang tak kunjung sembuh, dan berbagai permasalahan kesulitan hidup. Akibat dari adanya kasus tersebut, suasana desa menjadi tegang, was-was, bahkan takut kejadian serupa akan terjadi pada tempat yang sama. Hal ini masih dipengaruhi oleh pemikiran lokal, tentang adanya pulung gantung. Masyarakat yang percaya hal itu menandakan masih hidupnya mitos pulung gantung tersebut.

Latar cerpen ini adalah di suatu desa wilayah Gunung Kidul. Kondisi geografis, sosial, dan ekonomi di wilayah ini tidak menguntungkan. Ada beberapa daerah yang sudah maju, namun masih banyak juga daerah yang tertinggal. Pulung gantung merupakan simbol datangnya kematian (gantung diri), terutama banyak dipercaya di daerah Gunung Kidul. Kata pulung dalam tradisi Jawa berarti suatu sasmita (pertanda) keberuntungan bahkan sebaliknya. Menurut kepercayaan, pulung ini bisa berwujud  seperti bola api dan bisa juga berupa bola berwarna kebiruan. Berwujud bola api pertanda akan datang suatu musibah pada tempat tertentu, dan berwujud bola kebiruan pertanda datangnya keberuntungan atau biasa disebut ndaru. Warna merah sering diartikan sebagai simbol berani, menggambarkan keadaan yang panas, sedangkan warna biru dianggap sebagai simbol agung, tentram, dll. Kata gantung simbol dari adanya sesuatu yang menggantung pada suatu tempat. Dengan demikian kata pulung gantung ini melambangkan atau simbol datangnya musibah berupa adanya kematian seseorang dengan cara gantung diri ditempat yang sama (tempat yang dulunya pernah digunakan untuk gantung diri). Hal tersebut membuktikan bahwa simbol ditentukan oleh konvensi pemakainya, simbol lebih bersifat arbitrer (bebas).

Sikap tegas tokoh Ayah untuk tidak menebang pohon mangga tersebut disebabkan oleh keinginan dan keteguhan hati untuk tetap menjaga pohon warisan orang tuanya. Ketika tokoh Ayah lahir, sang bapak menanam pohon mangga sebagai tanda kelahirannya. Maka, ketika beberapa warga menyarankan agar pohon itu ditebang, tokoh Ayah hanya diam saja. Bahkan saran istri dan ibunya-pun tidak digubris. Ia tetap pada pendiriannya. Tokoh Ayah tidak terpengaruh oleh hal-hal yang berbau tahayul, meskipun ia hidup di tengah masyarakat yang masih berpandangan tradisional. Hal ini sesuai dengan dialognya berikut: “Pikiran orang Gunung Kidul memang penuh tahayul! Pohon yang tak tahu apa-apa disalahkan kesana kemari….” Secara tidak langsung tokoh Ayah tersebut sebenarnya ingin menghapus mitos-mitos yang berkembang di daerahnya. Menafikan sesuatu yang abstrak dan  tidak sesuai dengan logika, meski bertentangan dengan sebagian masyarakat yang masih percaya akan mitos-mitos tersebut. Ia menganggap bahwa itu hanyalah sejenis gugon tuhon (dalam hal ini kepercayaan yang mengarah pada paham animisme). Ia percaya bahwa makhluk halus, setan, itu memang ada, namun jika kita selalu dekat dengan Tuhan maka semuanya akan lari.

Berbeda dengan tokoh Nenek dimana ia tidak menyalahkan pohon mangga tersebut, namun ia lebih berpihak pada masyarakat sekitarnya. Ia malu mendengar rerasanan (pembicaraan negatif) tetangga karena tokoh Ayah tidak memenuhi permintaan mereka. Berikut dialognya dengan Totok (cucu): “Pohon mangga itu memang tak bersalah, Tok. Manusia sajalah yang bisa berbuat salah, atau dosa.” Diperkuat lagi dengan dialog lainnya: “Benar, memang kakek yang menanamnya. Tapi, lebih berharga mana pohon dengan manusia? Kalau pohon itu mengganggu ketentraman tetangga, membuat takut orang, mengapa dibiarkan?”

Pemikiran tokoh Nenek tersebut pada puncaknya diwujudkan dengan tindakannya. Ia membacoki pohon mangga tersebut agar meranggas dan bahkan mati sesuai keinginan masyarakat sekitar. Adanya hubungan indeks antara sikap masyarakat dan nenek tersebut membuat tokoh Ayah marah. Pertentangan prinsip antara Ayah dan Nenek tidak dapat dihindarkan. Satu sisi ingin menuruti kehendaknya sendiri dan satu sisi mewakili keresahan warga desa sekitar.

Akibat dari kejadian itu, tokoh Nenek menjadi ngambeg, tidak mau makan, jarang berbicara, dan mungkin psikologisnya terganggu. Bisa saja Nenek merasa tidak dihargai lagi, hingga ia memutuskan untuk gantung diri pada pohon mangga kesayangan tokoh Ayah, pohon pembawa malapetaka yang menyebabkan hubungan antar anggota keluarga dan dengan masyarakat sekitar menjadi renggang.  Keputusan terakhir tokoh Nenek ini seolah-olah ingin membuktikan pada tokoh Ayah bahwa pulung gantung itu ada, meski ia harus mengorbankan dirinya sendiri.

Akhir dari cerita tersebut adalah goyahnya pendirian tokoh Ayah, akibat kematian tokoh Nenek yang tragis. Bersama warga sekitar, pohon mangga kemudian ditebang, dibelah-belah, dan dibakar. Dengan begitu tidak memberikan tempat bagi pulung gantung untuk meminta korban lagi sesuai dengan kepercayaan masyarakat sekitar. Meski tidak diungkapkan dengan kata-kata, keputusan ayah tersebut menandakan tumbangnya prinsip yang menentang keberadaan sebuah mitos yang hidup di tengah masyarakat tradisional tersebut.

Simpulan

Tokoh Ayah, semula adalah menentang keberadaan mitos pulung gantung. Kasus kematian Wak Karsun yang gantung diri pada pohon mangga tersebut tidak menggoyahkan prinsipnya. Namun setelah kematian tokoh Nenek yang juga gantung diri di tempat yang sama tersebut, membuat tokoh Ayah mengambil keputusan untuk menebang pohon mangga kesayangannya. Tokoh Ayah merupakan simbol adanya modernitas yang menentang pemikiran-pemikiran tahayul, berbau tradisional, dan tidak sesuai dengan logika. Tokoh Ayah dipertentangkan dengan tokoh Nenek, dimana tokoh tersebut mewakili masyarakat tradisional yang masih percaya adanya pulung gantung.

Hubungan sebab akibat dalam cerpen ini muncul dari awal hingga cerita berakhir. Semuanya saling terkait, hingga membentuk struktur cerita lebih hidup. Meski tidak diceritakan bagaimana munculnya pulung gantung tersebut, masyarakat sudah mempunyai anggapan jika ada suatu tempat dipakai untuk gantung diri, maka tempat itu akan dihuni oleh pulung gantung dan suatu saat tempat itu akan meminta korban lagi (Maryun-Mer).

Daftar Pustaka

Asa Berger, Arthur. (2005). Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer; Suatu Pengantar Semiotika. Yogyakarta: Tiara Wacana

Budhi Santosa, Iman. (2003). Kalimantang; Kumpulan Cerpen. Yogyakarta: Jendela

Sudjiman, Panuti & Aart Van Zoest. (1992). Serba-serbi Semiotika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

About Sumaryono

"Berfikir Positif aja ah"
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>